MAKALAH
“PENGANTAR
STUDI ISLAM”
Dosen
Pengampu:
Asmad,
S.Sos.I, M.Pd
Disusun
oleh Kelompok 4 :
1.
Ikras Hervindi (E20193154)
2.
Dyanisa Ayu Safira (E20193174)
3.
Irza Noer Sais (E20193172)
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
Jalan Mataram No.1 Karang Miuwo,Mangli,Kec.Kaliwates,Kabupaten
Jember
Jawa Timur 68136
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Keberadaan Bahasa Indonesia Ilmiah” ini
tepat pada waktunya. Sholawat dan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang
telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam
yang sempurna dan menjadi anugerah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Adapun tujuan dari penulisan dari
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata
kuliah Pengantar Studi Islam.. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Dimensi
Ajaran Islam bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Asmad, S.Sos.I, M.Pd selaku dosen
mata kuliah Pengantar Studi Islam yang telah memberikan
tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang kami
tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Jember, 03 Oktober 2019
Kelompok 4
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah............................................................................ 1
C. Tujuan.............................................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN
Dimensi
Ajaran Islam
A.
Akidah............................................................................................. 2
B.
Akhlak.............................................................................................. 4
C.
Syaria’ah.......................................................................................... 6
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................... 8
B.
Saran................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 9
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Islam adalah sebuah
agama yang menjadi rahmatanlilalamin bagi seluruh pemeluknya, namun kita pun
belum mengetahui secara garis besar tentang islam dan bagian-bagian yang
memperkokoh islam.
Islam sebagai
agama bisa dilihat dari berbagai dimensi yakni ; Aqidah(sebagai keyakinan),
Akhlak(sebagai ajaran), dan Syari’ah (sebagai aturan). Apa yang diyakini oleh
seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan islam, boleh jadi
tidak, karena proses dalam diri seseorang itu mempunyai keyakinan yang berbeda-beda,
dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda.
B. Rumusan
Masalah
a.
Jelaskan
pengertian dari Akidah ?
b.
Jelaskan
pengertian dari Akhlak ?
c.
Jelaskan
pengertian dari Syari’ah ?
C. Tujuan
a.
Dapat
mengetahui apa saja dimensi ajaran islam
b.
Dapat
mengetahui apa yang dimaksud Akidah
c.
Dapat
mengetahui apa yang dimaksud Akhlak
d.
Dapat
mengetahui apa yang dimaksud Syariah
BAB II
PEMBAHASAN
DIMENSI AJARAN ISLAM
A. AKIDAH
Dalam bahasa Arab akidah
berasal dari kata al-'aqdu (الْعَقْدُ) yang
berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang
berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang
artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ
بِقُوَّةٍ) yang
berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan
menurut istilah (terminologi),
akidah adalah iman yang
teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi,
akidah islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada allah
dengan segala pelaksana kewajiban, bertauhid daat taat padanya, beriman kepada
para malaikatnya, rasul-rasulnya, kitab-kitabnya, hari akhir,takdir baik dan
buruk dang mengimani seluruh apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip
agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi
ijma’(Konsensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita
qath’i(pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliya yang telah ditetapkan
di al-qur’an dan as-sunnah yang shahih serta ijma’ dalaf as-shalih.
Pembagian
akidah tauhid, walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan dan
kalangan umat islam, tetapi allah telah membukakan hati para hambanya yang
beriman, yaitu para salaf shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan
kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah
termasuk rububiyah allah atas makhluknya.Ruang lingkup akidah meliputi
sebagai berikut:
1.
Ilahiyat, yaitu
pembahasan hal yang berkenaan dengan masalah ketuhanan, khususnya membahas
mengenai Allah SWT.
2.
Nubuwwat, yaitu
pembahasan hal yang berkenaan dengan para utusan Allah (nabi dan rasul Allah).
3.
Ruhaniyat, yaitu
pembahasan hal yang berkenaan dengan mahluk gaib. Misalnya malaikat, iblis, dan
jin.
4.
Sam’iyyat, yaitu
pembahasan hal yang berkenaan dengan alam gaib. Misalnya surga, neraka, alam
kubur, dan lainnya
Tujuan mempelajari akidah Bagi umat Islam, mempelajari
aqidah yang benar adalah suatu kewajiban. Mengacu pada pengertian aqidah,
adapun beberapa tujuan mempelajari aqidah adalah sebagai berikut:
1.
Meningkatkan
Ibadah Kepada Allah SWT
Orang yang paham Aqidah akan bisa dengan mudah
mengikhlaskan ibadahnya semata-mata hanya untuk Allah SWT. Dari sini, mereka
akan terus berusaha meningkatkan ibadahnya tanpa ada keraguan lainya
2.
Menenangkan Jiwa
Aqidah bertujuan untuk membuat hati menjadi
lebih tenang karena bisa menerima semuanya dengan ikhlas, baik takdir baik
maupun buruk. Hal ini karena mereka meyakini bahwa semuanya ini sudah diatur
oleh Allah. Mereka juga akan percaya bahwa rencana Allah jauh lebih indah
sehingga tidak perlu khawatir apa yang akan terjadi esok hari.
3.
Meningkatkan Amal Baik
Tujuan Aqidah sebenarnya untuk menghindarkan
diri dari perbuatan sesat. Oleh karena itu, mereka yang memahami dengan baik
Aqidah akan senantiasa melakukan amalan baik dan menjauhi perbuatan buruk yang
dilarang Allah. Mereka akan selalu ingat bahwasannya setiap perbuatan dosa yang
dilakukan akan mendapat balasan dan siksaan.
4.
Menegakkan Agamanya
Mereka yang mempelajari Aqidah tidak akan
pernah ragu dalam berbuat baik, terutama untuk menegakkan agamanya. Selain itu,
mereka juga akan selalu berusaha untuk memperkuat tiang penyangga agamanya,
termasuk berjihad. Pada dasarnya, Aqidah akan membuat orang tahu bahwasannya
yang perlu dikejar tidak semata-mata kebahagiaan di dunia tetapi juga di akhir Contoh akidah Islam
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, umat
Islam seharusnya selalu berpegang pada aqidah Islam. Adapun beberapa contoh
aqidah Islam adalah sebagai berikut:
1.
Beriman kepada Alla Ta’ala dan sifat-sifatnya
dengan cara menerima dan meyakini sesuai dengan apa yang tertulis dalam
Al-Quran dan As-Sunah (hadits).
2.
Melakukan enam rukun iman dalam kehidupan
sesuai dengan ajaran Islam dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya.
3.
Saling menghormati dan menyayangi sesama
anggota keluarga dan masyarakat sesuai ajaran Islam. Mau melakukan beberapa
kegiatan bersama sesuai ajaran Islam misalnya; melakukan shalat berjamaah.
4.
Tidak menerima fatwa, kecuali berdasarkan
Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tsabit
(kokoh).
B. AKHLAK
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab al akhlaq
yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku, atau tabiat. Secara terninologi, akhlak adalah keadaan
batin yang menjadi sumber lahir nya perbuatan dimana perbuatan itu lahir secara
spontan tanpa berfikir untung atau rugi. Kajian akhlak adalah tingkah laku
manusia, atau tepatnya nilai dari tingkah lakunya, yang bisa bernilai baik
(mulia) atau sebaliknya bernilai buruk (tercela).
Kualitas keberagaman seseorang justru ditentukan oleh nilai
akhlaknya. Akhlak menekan kan kualitas
dari perbuatan, misalnya beramal dilihat dari keikhlasannya, shalat dilihat
dari kekhusyu'annya, berjuang dilihat dari kesabarannya, haji dari
kemabrurannya, ilmu dilihat dari konsistensinya dengan perbuatan, harta dilihat
dari aspek darimana dan untuk apa, jabatan dilihat dari ukuran apa yang telah
diberikan bukan apa yang diterima.
Terdapat juga beberapa pendapat mengenai definisi akhlaq yaitu
menurut Ibnu Maskawih memberikan penjelasan tentang akhlaq yaitu:
“Keadaan jiwa seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan – perbuatan tanpa melalui pertimbangan
jiwa”
Selain itu
menurut Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan penjelasan tentang akhlaq yaitu:
“akhlaq adalah sesuatu yang
dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan
itu di sebut akhlaq”.
Dari beberapa
definisi diatas yang sekalipun beragam dalam memberi pengertian tentang akhlak
namun maksud dan maknanya sama, maka ada beberapa ahli yang menyimpulkan
definisi akhlak yaitu kesimpulan menurut Prof. K. H Farid Ma'ruf bahwa akhlaq
ialah:
“Kehandak jiwa manusia yang
menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa memerlukan
pertimbangan fikiran terlebih dahulu”.
Dan tidak
terlalu jauh maknanya dengan kesimpulan Prof. K. H. Farid, dengan bahasa yang
berbeda Dr. M Abdullah Dirroz menyatakan kesimpulan dari definisi akhlaw yaitu
:
“Akhlaq adalah sesuatu kekuatan
dalam kehendak yang mantap, kekuatan Dan kehendak mana berkombinasi membawa
kecenderungan pada pemilihan sepihak yang benar ( dalam hal yang baik ) atau
pihak yang jahat (dalam hal yang jahat)” .
Akhlak
bersumber pada agama. Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai sesuatu
sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.pembentukan perangai ke arah
baik atau buruk ditentukan oleh faktor dari dalam sendiri maupun dari luar, yaitu
kondisi lingkungannya. Lingkungam yg paling kecil adalah keluarga, melalui
keluargalah kepribafian seseorang dapat terbentuk.
Ada empat hal yang harus ada apabila
seseorang ingin dikatakan berakhlak:
1.
Perbuatan
yang baik atau buruk
2.
Kemampuan
melakukan perbuatan
3.
Kesadaran
akan perbuatan itu
4.
Kondisi
jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk
C. SYARI’AH
Syariah menurut asal katanya berarti jalan menuju mata air, syariat
islam berarti jalan yang harus ditempuh seorang muslim. (Tim Depag RI,
2000:141)
Menurut istilah, syariah berarti aturan atau undang-undang yang
diturunkan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun Minallah),
mengatur hubungan manusia dengan manusia (Hablun Minannas), dan hubungan manusia
dengan alam semesta.
Syariah adalah suatu tatacara pengaturan tentang perilaku hidup
manusia untuk mencapai keridhaan Allah SWT seperti dirumuskan di dalam
al-Quran. Untuk lebih memperdalam kajian syariah ini para ulama mengembangkan
suatu ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu fikih atau fikih Islam. Ilmu fikih
ini mengkaji konsep-konsep syariah yang termuat dalam Al-Quran dan Sunnah
dengan melalui ijtihad.
Sesuai dengan pengertian di atas, maka syariah mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia sebagai individu, masyarakat, dan sebagai subyek alam
semesta.
Syaria’ah mengatur hidup manusia sebagai individu, yakni sebagai
hamba Allah yang harus taat, tunduk, dan patuh kepada Allah SWT. Ketaatan,
ketundukan. Kepatuhan kepada Allah dibuktikan dalam pelaksanaan ibadah yang tata
caranya diatur sedemikian rupa oleh syari’iah islam.
Syariat islam mengatur pula tata hubungan seseorang dengan dirinya
sendiri untuk mewujudkan sosok individu yang shaleh. Keshalehan individu ini
mencemirkan sosok pribadi muslim yang paripurna.
Islam mengakui manusia sebagai makhluk sosial, sehingga syariah
mengatur tata hubungan antara manusia dengan manusia dalam bentuk muamalah,
sehingga terwujud kesholehan sosial. Kesholehan sosial merupakan bentuk
hubungan yang harmonis antara individu dengan lingkungan sosial sehingga dapat
dilahirkan bentuk masyarakat yang saling memberikan perhatian dan kepedulian
antara anggota masyarakat yang dilandasi oleh rasa kasih sayang. Dalam hubungan
dengan alam, syariah islam meliputi aturan dalam mewujudkan hubungan yang
harmonis antara manusia dengan alam dan mendorong untuk saling member manfaat
sehingga terwujud lingkungan alam yang subur dan makmur gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kertoharjo artinya makmur dan
lestari.
Allah menurunkan syariat Islam kepada manusia dengan lengkap sesuai
dengan hakekat manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. Syariat
islam diturunkan kepada manusia untuk dilaksanakan dalam kehidupan di dunia
demi mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. (Sudirman,2000:55)
Ruang
lingkup syariah ada dua yaitu:
1)
Hubungan
manusia dengan Allah SWT secara vertikal, melalui ibadah, seperti Thaharah,
Sholat, Zakat, Puasa, Naik Haji dan lain-lain.
2)
Hubungan
manusia dengan manusia secara horizontal, seperti Muamalah, Munakahat, Jinayat,
Siyasah, dan lain-lain.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam keseluruhan bangunan pondasi islam akidah,
akhlak, syariah dapat diharapkan sebagai pondasi dimana keseluruhan komponen
ajara islam tegak atasnya. Akidah, akhlak, syariah adalah prinsip keyakinan dengan keyakinan
itu orang termotivasi untuk menunaikan kewajiban agamanya. Karena sifat keyakinan adalah informasi yang
disampaikan oleh Allah. Melalui wahyu kepada nabinya, Muhammad SAW
B. Saran
Tiada kata yang pantas kami ucapkan selain rasa syukur yang
sebesar-besarnya kepada Allah SWT, atas terselesaikannya makalah ini, kami
selaku penulis makalah ini menyadari dalam penyusunan makalah yang membahas
tentang ‘’Dimensi Ajaran Islam’’ ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
tata cara penulisan dan bahasa yang di pergunakan maupun dari segi penyajian
materinya. Untuk itu
kritik dan sarannya sangat kami harapkan supaya dalam penugasan makalah yang
akan datang lebih baik dan lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Sudirman. 2012. Pilar-Pilar Islam Menuju Kesempurnaan Sumber Daya
Muslim. Malang: UIN Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar