Sabtu, 19 Oktober 2019

Dimensi Ajaran Islam


MAKALAH
“PENGANTAR STUDI ISLAM”
Dosen Pengampu:
Asmad, S.Sos.I, M.Pd


Disusun oleh Kelompok 4 :
1.        Ikras Hervindi (E20193154)
2.        Dyanisa Ayu Safira (E20193174)
3.        Irza Noer Sais (E20193172)

ISTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
Jalan Mataram No.1 Karang Miuwo,Mangli,Kec.Kaliwates,Kabupaten Jember
Jawa Timur 68136


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Keberadaan Bahasa Indonesia Ilmiah” ini tepat pada waktunya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugerah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Pengantar Studi Islam.. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Dimensi Ajaran Islam bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Asmad, S.Sos.I, M.Pd selaku dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 03 Oktober 2019

Kelompok  4

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................      ii
DAFTAR ISI...............................................................................................      iii     
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................      1
B.     Rumusan Masalah............................................................................      1
C. Tujuan..............................................................................................     1
BAB II PEMBAHASAN
Dimensi Ajaran Islam
A.    Akidah.............................................................................................      2
B.     Akhlak..............................................................................................      4
C.     Syaria’ah..........................................................................................      6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................      8
B.     Saran................................................................................................      8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................      9








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah sebuah agama yang menjadi rahmatanlilalamin bagi seluruh pemeluknya, namun kita pun belum mengetahui secara garis besar tentang islam dan bagian-bagian yang memperkokoh islam.
Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi yakni ; Aqidah(sebagai keyakinan), Akhlak(sebagai ajaran), dan Syari’ah (sebagai aturan). Apa yang diyakini oleh seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan islam, boleh jadi tidak, karena proses dalam diri seseorang itu mempunyai keyakinan yang berbeda-beda, dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda.

B.     Rumusan Masalah
a.       Jelaskan pengertian dari Akidah ?
b.      Jelaskan pengertian dari Akhlak ?
c.       Jelaskan pengertian dari Syari’ah ?

C.    Tujuan
a.    Dapat mengetahui apa saja dimensi ajaran islam
b.    Dapat mengetahui apa yang dimaksud Akidah
c.    Dapat mengetahui apa yang dimaksud Akhlak
d.   Dapat mengetahui apa yang dimaksud Syariah





BAB II
PEMBAHASAN
DIMENSI AJARAN ISLAM
A.  AKIDAH
Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-'aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istilah (terminologi), akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi, akidah islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada allah dengan segala pelaksana kewajiban, bertauhid daat taat padanya, beriman kepada para malaikatnya, rasul-rasulnya, kitab-kitabnya, hari akhir,takdir baik dan buruk dang mengimani seluruh apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’(Konsensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath’i(pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliya yang telah ditetapkan di al-qur’an dan as-sunnah yang shahih serta ijma’ dalaf as-shalih.
Pembagian akidah tauhid, walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan dan kalangan umat islam, tetapi allah telah membukakan hati para hambanya yang beriman, yaitu para salaf shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah allah atas makhluknya.Ruang lingkup akidah meliputi sebagai berikut:
1.      Ilahiyat, yaitu pembahasan hal yang berkenaan dengan masalah ketuhanan, khususnya membahas mengenai Allah SWT.
2.      Nubuwwat, yaitu pembahasan hal yang berkenaan dengan para utusan Allah (nabi dan rasul Allah).
3.      Ruhaniyat, yaitu pembahasan hal yang berkenaan dengan mahluk gaib. Misalnya malaikat, iblis, dan jin.
4.      Sam’iyyat, yaitu pembahasan hal yang berkenaan dengan alam gaib. Misalnya surga, neraka, alam kubur, dan lainnya
Tujuan mempelajari akidah Bagi umat Islam, mempelajari aqidah yang benar adalah suatu kewajiban. Mengacu pada pengertian aqidah, adapun beberapa tujuan mempelajari aqidah adalah sebagai berikut:
1.    Meningkatkan Ibadah Kepada Allah SWT
Orang yang paham Aqidah akan bisa dengan mudah mengikhlaskan ibadahnya semata-mata hanya untuk Allah SWT. Dari sini, mereka akan terus berusaha meningkatkan ibadahnya tanpa ada keraguan lainya
2.    Menenangkan Jiwa
Aqidah bertujuan untuk membuat hati menjadi lebih tenang karena bisa menerima semuanya dengan ikhlas, baik takdir baik maupun buruk. Hal ini karena mereka meyakini bahwa semuanya ini sudah diatur oleh Allah. Mereka juga akan percaya bahwa rencana Allah jauh lebih indah sehingga tidak perlu khawatir apa yang akan terjadi esok hari.
3.    Meningkatkan Amal Baik
Tujuan Aqidah sebenarnya untuk menghindarkan diri dari perbuatan sesat. Oleh karena itu, mereka yang memahami dengan baik Aqidah akan senantiasa melakukan amalan baik dan menjauhi perbuatan buruk yang dilarang Allah. Mereka akan selalu ingat bahwasannya setiap perbuatan dosa yang dilakukan akan mendapat balasan dan siksaan.
4.    Menegakkan Agamanya
Mereka yang mempelajari Aqidah tidak akan pernah ragu dalam berbuat baik, terutama untuk menegakkan agamanya. Selain itu, mereka juga akan selalu berusaha untuk memperkuat tiang penyangga agamanya, termasuk berjihad. Pada dasarnya, Aqidah akan membuat orang tahu bahwasannya yang perlu dikejar tidak semata-mata kebahagiaan di dunia tetapi juga di akhir Contoh akidah Islam
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, umat Islam seharusnya selalu berpegang pada aqidah Islam. Adapun beberapa contoh aqidah Islam adalah sebagai berikut:
1.      Beriman kepada Alla Ta’ala dan sifat-sifatnya dengan cara menerima dan meyakini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran dan As-Sunah (hadits).
2.      Melakukan enam rukun iman dalam kehidupan sesuai dengan ajaran Islam dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
3.      Saling menghormati dan menyayangi sesama anggota keluarga dan masyarakat sesuai ajaran Islam. Mau melakukan beberapa kegiatan bersama sesuai ajaran Islam misalnya; melakukan shalat berjamaah.
4.      Tidak menerima fatwa, kecuali berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tsabit (kokoh).

B.  AKHLAK
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab al akhlaq yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Secara terninologi, akhlak adalah keadaan batin yang menjadi sumber lahir nya perbuatan dimana perbuatan itu lahir secara spontan tanpa berfikir untung atau rugi. Kajian akhlak adalah tingkah laku manusia, atau tepatnya nilai dari tingkah lakunya, yang bisa bernilai baik (mulia) atau sebaliknya bernilai buruk (tercela).
Kualitas keberagaman seseorang justru ditentukan oleh nilai akhlaknya. Akhlak menekan kan  kualitas dari perbuatan, misalnya beramal dilihat dari keikhlasannya, shalat dilihat dari kekhusyu'annya, berjuang dilihat dari kesabarannya, haji dari kemabrurannya, ilmu dilihat dari konsistensinya dengan perbuatan, harta dilihat dari aspek darimana dan untuk apa, jabatan dilihat dari ukuran apa yang telah diberikan bukan apa yang diterima.
Terdapat juga beberapa pendapat mengenai definisi akhlaq yaitu menurut Ibnu Maskawih memberikan penjelasan tentang akhlaq yaitu:
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan – perbuatan tanpa melalui pertimbangan jiwa”
Selain itu menurut Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan penjelasan tentang akhlaq yaitu:
“akhlaq adalah sesuatu yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu di sebut akhlaq”.
Dari beberapa definisi diatas yang sekalipun beragam dalam memberi pengertian tentang akhlak namun maksud dan maknanya sama, maka ada beberapa ahli yang menyimpulkan definisi akhlak yaitu kesimpulan menurut Prof. K. H Farid Ma'ruf bahwa akhlaq ialah:
“Kehandak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa memerlukan pertimbangan fikiran terlebih dahulu”.
Dan tidak terlalu jauh maknanya dengan kesimpulan Prof. K. H. Farid, dengan bahasa yang berbeda Dr. M Abdullah Dirroz menyatakan kesimpulan dari definisi akhlaw yaitu :
“Akhlaq adalah sesuatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan Dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan sepihak yang benar ( dalam hal yang baik ) atau pihak yang jahat (dalam hal yang jahat)” .
Akhlak bersumber pada agama. Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai sesuatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.pembentukan perangai ke arah baik atau buruk ditentukan oleh faktor dari dalam sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungam yg paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribafian seseorang dapat terbentuk.
Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak:
1.    Perbuatan yang baik atau buruk
2.    Kemampuan melakukan perbuatan
3.    Kesadaran akan perbuatan itu
4.    Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk

C.  SYARI’AH
Syariah menurut asal katanya berarti jalan menuju mata air, syariat islam berarti jalan yang harus ditempuh seorang muslim. (Tim Depag RI, 2000:141)
Menurut istilah, syariah berarti aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun Minallah), mengatur hubungan manusia dengan manusia (Hablun Minannas), dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Syariah adalah suatu tatacara pengaturan tentang perilaku hidup manusia untuk mencapai keridhaan Allah SWT seperti dirumuskan di dalam al-Quran. Untuk lebih memperdalam kajian syariah ini para ulama mengembangkan suatu ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu fikih atau fikih Islam. Ilmu fikih ini mengkaji konsep-konsep syariah yang termuat dalam Al-Quran dan Sunnah dengan melalui ijtihad.
Sesuai dengan pengertian di atas, maka syariah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagai individu, masyarakat, dan sebagai subyek alam semesta.
Syaria’ah mengatur hidup manusia sebagai individu, yakni sebagai hamba Allah yang harus taat, tunduk, dan patuh kepada Allah SWT. Ketaatan, ketundukan. Kepatuhan kepada Allah dibuktikan dalam pelaksanaan ibadah yang tata caranya diatur sedemikian rupa oleh syari’iah islam.
Syariat islam mengatur pula tata hubungan seseorang dengan dirinya sendiri untuk mewujudkan sosok individu yang shaleh. Keshalehan individu ini mencemirkan sosok pribadi muslim yang paripurna.
Islam mengakui manusia sebagai makhluk sosial, sehingga syariah mengatur tata hubungan antara manusia dengan manusia dalam bentuk muamalah, sehingga terwujud kesholehan sosial. Kesholehan sosial merupakan bentuk hubungan yang harmonis antara individu dengan lingkungan sosial sehingga dapat dilahirkan bentuk masyarakat yang saling memberikan perhatian dan kepedulian antara anggota masyarakat yang dilandasi oleh rasa kasih sayang. Dalam hubungan dengan alam, syariah islam meliputi aturan dalam mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan mendorong untuk saling member manfaat sehingga terwujud lingkungan alam yang subur dan makmur gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kertoharjo artinya makmur dan lestari.
Allah menurunkan syariat Islam kepada manusia dengan lengkap sesuai dengan hakekat manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. Syariat islam diturunkan kepada manusia untuk dilaksanakan dalam kehidupan di dunia demi mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. (Sudirman,2000:55)
Ruang lingkup syariah ada dua yaitu:
1)   Hubungan manusia dengan Allah SWT secara vertikal, melalui ibadah, seperti Thaharah, Sholat, Zakat, Puasa, Naik Haji dan lain-lain.
2)   Hubungan manusia dengan manusia secara horizontal, seperti Muamalah, Munakahat, Jinayat, Siyasah, dan lain-lain.


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dalam keseluruhan bangunan pondasi islam akidah, akhlak, syariah dapat diharapkan sebagai pondasi dimana keseluruhan komponen ajara islam tegak atasnya. Akidah, akhlak, syariah adalah prinsip keyakinan dengan keyakinan itu orang termotivasi untuk menunaikan kewajiban agamanya.  Karena sifat keyakinan adalah informasi yang disampaikan oleh Allah. Melalui wahyu kepada nabinya, Muhammad SAW


B.  Saran
Tiada kata yang pantas kami ucapkan selain rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, atas terselesaikannya makalah ini, kami selaku penulis makalah ini menyadari dalam penyusunan makalah yang membahas tentang ‘’Dimensi Ajaran Islam’’ ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari tata cara penulisan dan bahasa yang di pergunakan maupun dari segi penyajian materinya. Untuk itu kritik dan sarannya sangat kami harapkan supaya dalam penugasan makalah yang akan datang lebih baik dan lebih sempurna.







DAFTAR PUSTAKA
Sudirman. 2012. Pilar-Pilar Islam Menuju Kesempurnaan Sumber Daya Muslim. Malang: UIN Press








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Dan Sistem Manajemen Database

DATABASE dan SISTEM MANAJEMEN DATABASE v   BENTUK - BENTUK DATA Bentuk – Bentuk Data diantaranya yaitu: 1.    Bentuk Data Menurut Cara ...