MAKALAH
“Hubungan
dan Pola Komunikasi Dalam Organisasi Serta Pengelolaannya”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
KOMUNIKASI
BISNIS
Dosen pembimbing :
RONI SUBHAN, S.pd. M.pd
Disusun oleh Kelompok 3 :
1.
Ikras Hervindi (E20193154)
2.
Dyanisa Ayu Safira (E20193174)
AKUNTANSI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN
BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN) JEMBER
2020/2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah SWT karena
rahmat dan nikmat-Nya makalah komunikasi organisasi ini dapat diselesaikan
tepat waktu. Kemudian kami ucapkan terima kasih kepada Dosen
Pembimbing yang telah menjelaskan cara pembuatan makalah ini. Serta kepada
pihak-pihak yang terkait yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Mungkin
dalam makalah ini masih banyak kekurangan atau kelebihan yang tidak kami
sadari. Oleh sebab itu kami berharap bagi yang membaca makalah ini bisa
berpatisipasi untuk memberikan saran maupun kritikan yang dapat membuka insight
kita untuk kedepannya.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sudah menjadi
kodratnya bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang hidup bersama dengan
manusia lain secara berkelompok, bersama-sama sukunya, bersama-sama dalam suatu
daerah, berbangsa dan bernegara. Dan hidup bersama-sama dengan orang lain itu
timbul komunikasi. Dalam kehidupan modern seperti sekarang komunikasi memegang
peran yang sangat penting, karena justru dari cara komunikasi yang digunakan,
maka orang dapat sukses, tetapi dari cara komunikasinya pula orang dapat gagal
dalam mencapai tujuannya. Bagaimana kita berkomunikasi dalam kehidupan bersama
itu-lah yang menjadi salah satu faktor yang sangat penting di dalam kehidupan
bersama, baik di dalam organisasi ataupun kelompok.
Mengapa
komunikasi penting dalam suatu organisasi? Pertanyaan ini kerap dilontarkan
oleh mereka yang “concern” terhadap kajian fenomena komunikasi maupun mereka
yang tertarik pada gejala-gejala keorganisasian. Dalam kenyataannya masalah
komunikasi senantiasa muncul dalam proses organisasi. Bahkan boleh dikata,
organisasi tanpa komunikasi ibarat sebuah mobil yang di dalamnya terdapat
rangkaian alat-alat otomotif, yang terpaksa tidak berfungsi karena tidak adanya
aliran fungsi antara satu bagian dengan bagian yang lain. Conection komunikasi
merupakan sistem aliran yang menghubungkan dan membangkitkan kinerja antar
bagian dalam organisasi sehingga menghasilkan sinergi.
Komunikasi
menyediakan alalt-alat untuk pengambilan keputusan menerima umpan-balik dan
mengoreksi tujuan serta prosedur organisasi. Apabila komunikasi berhenti maka
aktivitas organisasi akan berhenti. Dengan demikian tinggalah kegiatan-kegiatan
individu yang tidak terorganisasi.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan komunikasi bisnis?
2.
Fungsi
komunikasi dalam organisasi?
3.
Apa
saja faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi?
4.
Apa
saja pola-pola dari komunikasi organisasi?
5.
Bagaimana
proses dari komunikasi?
6.
Apa
saja hambatan yang mungkin muncul dalam organisasi?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Dari Komunikasi Organisasi
Komunikasi
Organisasi merupakan bentuk
pertukaran pesan antara unit-unit komunikasi yang berada dalam organisasi
tertentu. Organisasi sendiri terdiri dari unit-unit komunikasi dalam
hubungan-hubungan hirarkis antara yang satu dengan yang lainnya dan berfungsi
dalam suatu lingkungan. Komunikasi organisasi melibatkan manusia sebagai subyek
yang terlibat dalam proses menerima, menafsirkan, dan bertindak atas informasi.
Menurut
wiryanto, komunikasi oragnisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan
organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi.
Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri
dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di
dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan
dalam organisasi. Misalnya memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan
surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui
secara sosial. Prientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada
anggotanya secara individual.
Komunikasi
organisasi serupa dengan komunikasi internal Pengertian dari
komunikasi internal adalah pertukaran gagasan di antara para administrator dan
karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai
pertukaran gagasan secara horizontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga
pekerjaan dapat berjalan.
Komunikasi
dalam organisasi sangat penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang
bisa berhubungan dengan orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa
menambah wawasan seseorang dalam bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari
maka untuk membina hubungan kerja antar pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah membicarakan komunikasi
secara lebih terperinci. Dalam menyalurkan ide melalui komunikasi harus ada si
pengirim berita (sender) maupun si penerima berita (receiver). Solusi-solusi
yang diberikan pun tidak diambil seenaknya saja, tetapi ada penyaringan dan
seleksi, manakah solusi yang terbaik yang akan diambil, dan yang akan
dilaksanakan oleh organisasi tersebut agar mencapai tujuan, serta visi, misi
suatu organisasi.
Berikut
ini adalah beberapa definisi serta penjelasan mengenai komunikasi menurut
beberapa ahli:
a.
Himstreet & Baty
Komunikasi
adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem
yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku
atau tindakan.
b.
Theodorson & Thedorson
Komunikasi
adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang
kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
c.
Charles H. Cooley
Komunikasi
berarti suatu mekanisme hubungan antar manusia dilakukan dengan mengartikan
simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan meyimpan dalam waktu.
Jadi, komunikasi adalah suatu proses
penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang lain dengan
tujuan tercapai persepsi atau pengertian yang sama. Berarti dalam hal ini
komunikasi dalam organisasi merupakan hal yang paling penting karena
komunikasi.
B. Fungsi Komunikasi dalam organisasi
Menurut
sendjaja, dalam organisasi baik yang bersifat komersial maupun yang bersifat
sosial proses komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut yang bersifat
sosial proses komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut harus memiliki
4 fungsi yaitu:
1.
Fungsi
informatif
Organisasi
dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya adalah
seluruh karyawan/pegawai dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh
informasi yang lebih baik dan tetap waktu. Informasi yang didapat memungkinkan
setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara bai dan tepat,
informasi pada prinsipnya dibutuhkan oleh setiap orang yang memiliki perbedaan
posisi dan kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang tersebut dalam tataran
manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi
ataupun untuk upaya mengatasi konflik yang terjadi didalam organisasi,
sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan,
jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.
2.
Fungsi
regulatif
Fungsi regulatif
ini berkaitan dengan
peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi
regulatif ini, yaitu:
a)
Atasan
atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki
kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Di samping itu
mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan intruksi atau perintah,
sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis
atas (position of authority) supaya perintahnya dilaksanakan sebagaimana
semestinya. Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak
bergantung pada:
·
Keabsahan
pimpinan dalam penyampaian perintah
·
Kekuatan
pimpinan dalam pemberi sanksi
·
Kepercayaan
bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi
·
Tingkat
kredibilitas pesan yang diterima bawahan
b)
Berkaitan
dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi
pada kerja. Artinya , bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang
pekerjaan yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilaksanakan
3.
Fungsi
persuasif
Dalam mengelola
suatu organisasi, baik kekuasaan maupun kewenangan tidak selalu membawa hasil
sesuai seperti yang diharapkan. Karena itu, seorang pimpinan harus bisa
melakukan persuasi terhadap bawahan dari pada selalu memberikan perintah, sebab
pekerjaan yang dilaksanakan secara suka rela oleh karyawan atau pegawai akan
menghasilkan kepedulian yang lebih besar bila dibandingkan jika seorang
pimpinan sering memperlihatkan kekuasaaan dan kewenangannya.
4.
Integratif
Setiap
organisasi berupaya menyediakan saluran komunikasi yang memungkinkan para
karyawan atau pegawai dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada
dua saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi
tersebut (newsletter, buletin dll), dan laporan kemajuan organisasi, juga
melalui saluran komunikasi informal seperti percakapan antar pribadi ketika
waktu jam istirahat kerja. Pertandingan olahraga maupun berupa kegiatan kegiata
berdarmawisata pelaksanaan aktivitas seperti ini akan menumbuhkan keinginan
untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
C.
Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
faktor
yang mempengaruhi komunikasi organisasi yang efektif. Dengan mengetahui apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi strategi komunikasi organisasi yang efektif, tentu saja para anggota
organisasi ataupun para pengurus organisasi tersebut memiliki kesempatan yang
lebih besar untuk melakukan komunikasi organisasi yang lebih efektif.
1.
Jalur
komunikasi formal
Salah seorang penulis, Raymond V Lesikar dalam
bukunya A General Sematic Apporoach to Communication Barries (1997),
menjelaskan bahwa salah satu faktor yang bisa mempengaruhi komunikasi
organisasi adalah jalur komunikasi formal yang dimiliki oleh organisasi
tersebut. Tergantung pada bagaimana keluasan dan struktur jalur komunikasi
formal yang dimiliki oleh suatu organisasi, jalur komunikasi bisa menghambat
arus informasi yang bebas dari berbagai sumber informasi pada berbagi tingkat
organisasi, ataupun mempercepat atau memperlancar arus informasi tersebut.
2.
Struktur
wewenang
Faktor kedua adalah adanya struktur wewenang pada suatu
organisasi. Struktur wewenang bisa berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi
karena bisa kewenangan membuat seorang individu memiliki kemampuan dan tentunya
kebolehan untuk melakukan berbagai hal termasuk salah satunya adalah membatasi
siapa saja yang akan berkomunikasi dengan siapa dan tentunya apa saja yang bisa
dikomunikasikan. Adanya struktur wewenang yang saling tumpang tindih dengan
orang lain juga bisa membuat suatu komunikasi dalam suatu organisasi menjadi
lebih lama untuk dilakukan.
3. Spesialisasi pekerjaan
Spesialisasi pekerjaan yang dimiliki oleh individu yang
terlibat dalam komunikasi organisasi juga bisa mempengaruhi efektivitas
komunikasi yang dilakukan. Apabila pihak yang terlibat komunikasi memiliki
berbagai macam spesialisasi pekerjaan yang berbeda, besar kemungkinan
penggunaan istilah, wawasan dan kepribadian yang dimiliki berbeda satu dengan
yang lain sehingga bisa menjadi hambatan komunikasi organisasi. Akan tetapi hal ini bisa diatasi dengan memberikan
wawasan terhadap bidang kerja dan kosakata satu dengan yang lain. Atau bisa
pula disepakati penggunaan istilah yang sama-sama dimengerti satu dengan yang
lainnya.
4. Kemampuan komunikasi komunikator
Salah satu hal lain yang juga mempengaruhi efektivitas
komunikasi yang dilakukan dalam suatu organisasi adalah kemampuan komunikasi
yang dimiliki oleh komunikator itu sendiri. Maksudnya adalah, apabila
komunikator yang melakukan komunikasi organisasi tersebut memiliki kemampuan
yang baik dalam komunikasi, maka efektivitas komunikasi organisasi bisa lebih
mudah dicapai. Sementara apabila kemampuan komunikasinya cenderung buruk, maka
komunikasi organisasi yang efektif pun cenderung sulit untuk dicapai.
5. Wawasan
Wawasan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
komunikasi organisasi yang lain. Apabila pihak-pihak yang terlibat dalam suatu
komunikasi tidak memiliki wawasan yang sama satu dengan yang lainnya, maka
komunikasi yang efektif pun akan sulit untuk dilakukan. Selayaknya pada faktor
spesialisasi pekerjaan, memiliki wawasan yang cukup mengenai topik yang
dibicarakan adalah salah satu faktor utama komunikasi yang efektif.
6. Konteks
Konteks melingkupi peristiwa yang mengiri komunikasi
sebelum dilakukan, dan berbagai macam hal lain seperti artefak atau benda-benda
yang diperhatikan dalam suatu proses komunikasi oleh komunikator. Pada
prinsipnya, konteks bisa mempengaruhi efektivitas komunikasi yang dilakukan
karena konteks bisa mempengaruhi persepsi komunikan, kondisi psikologis
komunikator, dan berbagai aspek lain yang bisa mempengaruhi bagaimana proses
komunikasi dilakukan. Oleh karena itulah komunikasi organisasi yang efektif
idealnya mempertimbangkan kondisi atau konteks dari peristiwa komunikasi yang
dilakukan. Untuk mempelajarinya lebih dalam bisa melihat pada teori
komunikasi organisasi menurut para ahli.
7. Bahasa
Bahasa dalam hal ini berperan sebagai bentuk pesan yang
disampaikan oleh komunikator terhadap komunikan, seperti misalnya bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan berbagai macam bahasa yang lain. Perbedaan
bahasa ataupun pengetahuan bahasa bisa berpengaruh terhadap komunikasi
organisasi yang dilakukan. Misalnya apabila peserta komunikasi tidak memahami
bahasa yang digunakan dalam komunikasi dengan baik, tentunya mereka tidak akan
bisa merespons komunikasi yang dilakukan dengan baik pula. Oleh karena itulah
idealnya komunikasi organisasi dilakukan dengan menggunakan bahasa yang sesuai
degan komunikan dan juga komunikator.
8. Media
Media yang dimaksud adalah sarana atau saluran yang
digunakan untuk melakukan suatu proses komunikasi dalam suatu proses komunikasi
organisasi yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi
tersebut. Contoh media antara lain adalah telepon genggam, memo, dan berbagai
jenis media lainnya selama hal tersebut bisa menjadi alternatif dilakukannya
komunikasi organisasi.Pemilihan media yang tidak tepat bisa menghambat
komunikasi organisasi. Misalnya untuk menyampaikan program baru perusahaan
melalui saluran media sosial seperti BBM dengan disingkat” dan satu arah,
tentunya akan menyelitkan pihak-pihak yang terlibat komunikasi organisasi
tersebut untuk memahami maksud pesan yang sebenarnya. Selain itu, mereka juga tidak
memiliki kesempatan yang tepat untuk bisa bertanya pada mereka yang
menyampaikan pesan tersebut. Oleh karena itulah media pun harus dipilih dengan
cara yang tepat.
9. Pesan yang berbeda
Pesan yang berbeda, dalam hal ini bisa berarti pesan dari
kompetitor, atau pesan yang bertolak belakang dengan pesan yang disampaikan
oleh organisasi, dan lain sebagainya bisa memicu hasil komunikasi yang tidak
efektif apabila dibiarkan begitu saja. Dengan kata lain, pesan yang berlawanan
atau berbeda tetapi menghambat proses penerimaan pesan yang sesungguhnya ingin
disampaikan oleh organisasi, juga harus diatasi terlebih dahulu. Misalnya,
melalui klarifikasi, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka para peserta
komunikasi bisa menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan lebih
mudah. Jangan lupa untuk senantiasa memperhatikan etika
komunikasi organisasi.
10. Tingkat kedekatan komunikator dan komunikan
Masalah berikutnya yang merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi efektivitas komunikasi organisasi adalah tingkat kedekatan
komunikator dan komunikan. Semakin dekat komunikator dan komunikan, maka maksud
pesan pun bisa disampaikan dengan lebih mudah. Sementara itu, sebaliknya,
semakin jauh komunikator dan komunikan, semakin sulit pula komunikasi yang
efektif tercapai kecuali kemampuan komunikator dan juga karakter komunikan
mendukung hal tersebut. Itulah beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas
komunikasi organisasi. Semoga dengan mengetahui beberapa hal di atas komunikasi
bisa dilakukan dengan semakin baik.
D. Pola-pola Dalam Komunikasi Organisasi
Komunikasi
dalam organisasi terbagi menjadi dua yaitu formal dan informal.
1.
Komunikasi
formal
Komunikasi formal terbagi atas tiga bagian yaitu:
a.
Komunikasi
vertikal
Bentuk
komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan
sebaliknya artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan dan dari
bawahan kepada pimpinan secara imbal balik.
b.
Komunikasi
horizontal
bentuk komunikasi secara mendatar, di antara sesama karyawan dan
sebagainya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal. Fungsi
komunikasi horizontal atau kesamping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai
level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka melalui
media elektronik seperti telepon atau melalui pesan tertulis.
c.
Komunikasi
diagonal
Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang.
Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam
arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain. fungsi
komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda
tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain.
2.
Komunikasi
informal
komunikasi informal adalah komunikasi yang terjadi antara karyawan
dalam suatu organisasi yang dapat berinteraksi secara bebas satu sama lain
terlepas dari kewenangan dan fungsi jabatan mereka. Komunikasi informal terbagi
atas tiga bagian yaitu:
a.
Rumor,
yaitu jaringan informasi yang bisa menembus seluruh lapisan organisasi. Rumor
ditemukan dalam semua organisasi kecuali dalam organisasi yang sangat kecil
tetapi tidak selalu mengikuti pola yang sama dan tidak perlu menyesuaikan
dengan jalur-jalur wewenang dan komunikasi formal. Rumor terdiri dari beberapa
jenis yaitu:
· Rantai gosip, terbentuk saat satu orang menyebarkan pesan ke orang
banyak. tiap orang ini selanjutnya merahasiakan informasi tersebut atau
menyampaikan ke orang lain lagi, rantai
gosip cenderung melibatkan informasi pribadi.
· Rantai tandan, dimana satu orang menyebarkan informasi pada
sejumlah kecil individu terpilih. Beberapa dari penerima informasi selanjutnya
menyebarkan informasi kepada sejumlah kecil individu lain berikutnya, sisanya
menyimpan informasi untuk diri. Rumor bisa menjadi aset titik dengan mengenal
individu kunci dari rantai rumor manajemen dapat mengendalikan informasi yang
mereka terima dan menggunakan rumor untuk mengetahui reaksi karyawan terhadap
ide baru seperti perubahan kebijakan personalia atau paket tunjangan. Manager
juga bisa mendapatkan informasi bernilai dari rumor untuk memperbaiki proses
pembuatan keputusan.
b.
Managementbywanderingaround,
ide dasar manajemen byonethe ring around adalah sejumlah manajer mencari atau
apa yang terjadi dengan berkeluyuran dan berbicara kepada bawahan langsung,
bawahan jauh, petugas pengiriman, konsumen, atau siapa saja yang terkait dengan
perusahaan.
c.
Komunikasi
non verbal, adalah setiap interaksi komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata
atau yang memanfaatkan kata-kata untuk menyampaikan makna lebih luas dari
pengertian kata-kata itu sendiri. terdapat tiga jenis komunikasi nonverbal yang
dipraktekkan manajer yaitu Citra latar dan bahasa tubuh titik dalam konteks
organisasi citra adalah jenis kata-kata yang dipilih. “abaikan peringatan
bahayanya, terus maju dengan kecepatan penuh”, latar dan komunikasi berperan
penting dalam komunikasi nonverbal. Pembatasan, keakraban wilayah pribadi, dan
elemen lain dari latar semuanya penting. Komunikasi nonverbal mengandalkan ekspresi
wajah gerak tubuh, kontak fisik dan isyarat.
E.
Proses
Komunikasi Organisasi
komunikasi
terjadi dalam hubungan antara pengirim dengan penerima. Komunikasi dapat
mengalir dalam satu arah dan berakhir di sana. Atau sebuah pesan dapat
menimbulkan respon (yang secara formal dikenal dengan sebutan “umpan balik”)
dari penerima. Pengirim (sumber pesan)merupakan pihak yang mengawali komunikasi
titik dalam sebuah organisasi, pengirim dapat berupa seseorang dengan informasi
kebutuhan atau keinginan dan dengan tujuan mengkomunikasikannya kepada satu
atau beberapa orang lain.
Penerima adalah
orang yang inderanya menerima pesan dari pengirim. Mungkin terjadi jumlah
penerima banyak, seperti kalau sebuah memo dikirimkan kepada seluruh anggota
organisasi, atau hanya satu orang,seperti kalau seseorang mendiskusikan sesuatu
secara rahasia kepada seorang rekan. Pesan harus disesuaikan dengan latar
belakang penerima. Manajer produksi sehingga menghindari penggunaan istilah
yang sangat teknis dalam berkomunikasi dengan seseorang di departemen
pemasaran.
dari rangkaian
pengertian tersebut “bila pesan tidak sampai kepada penerima maka komunikasi
belum terjadi”. Di sisi lain, kerap terjadi situasi dimana pesan sudah sampai
kepada penerima, tetapi penerima tidak mampu memahaminya. Tiga faktor yang
mempengaruhi efektivitas komunikasi meliputi penyandian, pengertian dan
gangguan.
1.
Penyadian
penyandian
terjadi ketika pengirim menterjemahkan informasi untuk dikirimkan menjadi
serangkaian simbol. penyandian itu diperlukan karena informasi hanya dapat
dikirimkan dari seseorang kepada orang lain lewat perwakilan atau simbol.
Karena komunikasi merupakan objek dari penyandian, pengirim berusaha menetapkan
arti “ yang dapat dipahami bersama” dengan penerima dengan cara memilih simbol,
biasanya dalam bentuk kata atau gerakan tubuh, yang dipercaya oleh pengirim
mempunyai arti yang sama dengan penerimanya. kerap dijumpai, kurangnyakerjasama
adalah merupakan salah satu penyebab umum dari salah pengertian atau kegagalan
dalam berkomunikasi.
2.
Pengartian
Merupakan
proses yang dilakukan oleh penerima untuk menginterprestasikan pesan dan
menterjemahkannya ke dalam informasi yang mempunyai arti Ini merupakan proses
dua langkah, yaitu menerima pesan, dan kemudian mengartikannyaPengartian
dipengaruhi oleh pengalaman penerima, penilaian pribadi mengenai simbol dan
gerakan tubuh yang dipakai harapan (orang cenderung mendengar apa yang ingin
mereka dengar), dan kesamaan arti dengan pengirimnya. Secara umum, semakin
banyak pengartian penerima yang sama dengan pesan yang dimaksud oleh pengirim,
semakin efektif komunikasi.
3.
Gangguan
Meliputi
segenap faktor yang mengganggu, membingungkan, atau mencampuri komunikasi.
Gangguan dapat timbul dalam saluran komunikasi atau metode pengiriman. Gangguan
dapat terjadi karena faktor internal (misalnya penerima kurang mengindahkan)
ataupun faktor eksternal (misalnya pesan terganggu oleh suara lain dari
lingkungan titik gangguan dapat terjadi pada tahap manapun dari proses
komunikasi terutama pada tahap penyajian dan pengartian.
F.
Hambatan
komunikasi dalam organisasi
Dalam proses
organisasi tidaklah selalu mulus, tentunya akan banyak terjadi
hambatan-hambatan pada perjalanannya.Hambatan yang sering muncul adalah
hambatan komunikasi, karena komunikasi adalah kunci utama dalam kesuksesan
organisasi mengingat banyaknya orang yang terlibat di dalamnya.Hambatan
tersebut tentunya bukan menjadi suatu mengganjal dalam organisasi karena semua
hambatan pastinya dapat diselesaikan dengan baik dan tepat. Berikut ini adalah
macam-macam hambatan dalam organisasi yaitu:
1)
Hambatan
dari proses komunikasi
Hambatan dari
pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan kebun jelas bagi dirinya
atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
a.
Hambatan
dalam penyandian / simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang
dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang
dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang
dipergunakan terlalu sulit.
b.
Hambatan
media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya
gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan
pesan.
c.
Hambatan
dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.
d.
Hambatan
dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /
mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari
informasi lebih lanjut.
Hambatan dalam
memberikan balikan.Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan
tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan
sebagainya.
2)
Hambatan
fisik
Hambatan fisik
dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan
lain-lain, misalnya: gangguan kesehatan ( caca tubuh misalnya orang yang tuna
wicara), gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3)
Hambatan
semantik
Faktor
pemahaman bahasa dan penggunaan istilah tertentu. Kata-kata yang dipergunakan
dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas
atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya: adanya
perbedaan bahasa (bahasa daerah, nasional, maupun internasional), adanya
istilah-istilah yang hanya berlaku pada bidang-bidang tertentu saja, misalnya
bidang bisnis industri, kedokterandan lain-lain.
4)
Hambatan
psikologis
Hambatan
psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya: perbedaan
nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan,
sehingga menimbulkan emosi di atas pemikiran pemikiran dari si pengirim maupun
si penerima pesan yang hendak disampaikan.
5)
Hambatan
manusiawi
Terjadi karena
adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi, kecakapan atau
ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat panca indera seseorang,
dan lain-lain.
Adapun cara mengatasi Hambatan Komunikasi
1.
Gunakan
umpan balik
Beri kesempatan pada orang-orang lain untuk menyampaikan ide atau
gagasan nya, sehingga tercipta dua iklim komunikasi dua arah
2.
Kenali
si penerima berita
a.
Bagaimana
latar belakang pendidikannya
b.
Bagaimana
pengetahuan tentang subjek pembicaraan
c.
Sejauh
mana minat dan perasaannya
3.
Rencanakan
secara teliti, pertimbangkan baik-baik: apa, mengapa, siapa, bagaimana, kapan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan yang
telah dipaparkan di atas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa Komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari dalam segala aspek apapun, baik itu dalam organisasi maupun di
lingkungan masyarakat. Sehinga yang dimaksud Komunikasi Organisasi adalah
bentuk pertukaran pesan antara unit-unit komunikasi yang berada dalam
organisasi tertentu. Komunikasi dalam organisasi juga memiliki fungsi
diantaranya fungsi informatif, regulatif, persuasif dan integratif. Dalam
komunikasi organisasi tidaklah selalu berjalan mulus , tentunya akan banyak
terjadi hambatan-hambatan dalam berkomunikasi didalam organisasi.
DAFTAR PUSTAKA